Pengantar Antologi

Pengantar Antologi:

Masih Banhyak yang Diperjuangkan untuk Merdeka

Muda-mudi itu sudah tidak bisa lagi berpacaran di pantai, tak ada ngabuburit di bulan Ramadhan di pantai. Pemancing geleng-geleng kepala, lokasi mancingnya sudah dilarang. Karena berdiri hotel mewah dengan area hotel yang luas dan menghadap ke pantai. Tahu tidak pantai bukan milik rakyat sekarang, katanya.

Ibu jangan berobat di sini, rumah sakit ini tidak melayani jaminan kesehatan rakyat miskin, padahal berlaku di rumah sakit mana saja. Dirumah sakit lain tak disentuh dokter, hanya perawat magang dari akademi perawat, obatnya pun dibedakan. Kalau bisa miskin mati saja jangan berobat. Duhai Indonesia, untuk apa mereka digaji negara? kita dijajah bangsa sendiri.

Dan komplek perumahan-perumhan elit itu dijaga satpam, jalan itu khusus warga komplek itu dan tamu warga komplek itu. Jangan lewat sini , ini bukan jalan umum, padahlah maksudnya agar melalui jalan itu lebih dekat. Apalagi pedagang gerobak dorong, pemulung pun dilarang takut mereka mencuri, Oh republik merdeka masih ada larangan di jalan umum, kita memang dijajah bangsa sendiri.

Lalu sekolah-sekolah dibedakan peruntukannya, masyarakat kaya atau masyarakat miskin. Kamu sekolah di sana, di sini harus kuat membayar, di sini hanya orang-orang kaya. Jadilah si miskin berjalan kaki menjauh ke sekolah 'rakyat kecil. Kita dijajah lagi oleh bangsa sendiri.

Ketika di desa itu berdiri supermarket, warung-warung menjadi sepi pengunjung, toko kecil gulung tikar, pengrajin makanan turun produksi karena sudah jarang pembeli. Mereka kalah pemasaran, kalah manajemen, kalah pemodalan dan kalah semuanya dengan supermarket yang merambah desa. Perekonomian desa menjadi turun dratis, pengagguran bertambah, miskin bertambah. Kita Dijajah Lagi.
(17-08-2017 Rg Bagus Warsono, kurator tingal di Indramayu).






Tidak ada komentar:

Posting Komentar