Minggu, 01 Oktober 2017

Perahu Daun Bambu oleh Mast Oim

Mast Oim adalah seorang penyair asal Pati, puisinya bercerita tenyang desa. Masa lulu dan masa kini yang telah banyak berubah. Puisi yang merupakan puisi-puisi ungkapan ketidakadilan dimasa sekarang ini. Alurnya sederhana namun memberi makna mendalam. Puisi Mast Oim ini menambah semarak warna antologi Kita Dijajah Lagi.

Mast Oim (Miftahur Rohim)

                                                           Perahu Daun Bambu

Pe-ra-hu daun bambu
Hijau redup berselancar mengikuti gerak derasnya arus
Sesederhana bentuk dan bahan pembalutmu
Perahu daun bambu
Anak-anak riuh menghantar engkau
Meraih ujung kemudi kali kecil
Di perbatasan sebuah desa lereng gunung mboja
Anak-anak rindu main di kali
Bersama air jernih tanpa basa-basi
Mencerdaskan negeri
Yang dulu diincar kaum kompeni
Para ibu menggendong kayu jati
Dibarter dengan beras tanpa upeti
Pulang berbahagia
Walau tanpa mengharap kantong terisi
Ibu, aku rindu
Tanahmu yang dulu pernah damai
Setelah sekian lama dijarah
Kini kembali seperti dahulu
Hidup dibawah intimidasi
Banyak topeng berisi
Kedzaliman, keangkuhan, ketidakadilan
Hingga penindasan
Pati, 28 Agustus 2017
Mast Oim (Miftahur Rohim), seseorang yang kebetulan suka sastra yang kurang nyastra. Tinggal di Pati. Keseharian sebagai penjual kopi. Pegiat di KKEm (Komunitas Kopi Emperan).

Seni Budaya Ming Kari Tilas oleh Sarwo Darmono

Mari kita alih-bahasakan geguritan Mas Sarwo Darmono ini yang berjudul "Seni Budaya Mung Kari Tilas" judul yang apik untuk direnungkan kita semua. Mula Sarwo membuka puisinya dengan menampilkan kenyataan akan perilaku berkesenian //kabeh jingkrak senajan hamung jaran kencak// seakan hanya 'segebragan (kontemporer) penampilan semalam (kethoprak/ludruk) dan cuma figuran.
Kemudian puisi ini menceritakan perubahan budaya yg mengagungkan budaya luar. Sarwo menguingatkan untuk keagungan budaya luhur. Katanya mumpung masih ada zaman kembali ke budaya kita yg luhur. Kemasan apik Mas Sarwo Darmono mari kita lihat.

Sarwo Darmono

                                                           Seni Budaya Mung Kari Tilas

Kabeh pada nyengkuyung sanajan hamung kentrung
Kabeh pada gemnruduk sanajan hamung ludruk
Kabeh pada guyub sanajan hamung tayub
Kabeh pada sigrak sanajan hamung kethoprak
Kabeh pada jingkrak sanajan hamung jaran kencak
Kabeh pada girang sanajan hamung wayang Lan Glipang
Kabeh seni budaya iki wus pada ilang
Sanajan ana mung kari arang-arang
Kabeh mung kari tilas
Kabeh pada ora nggagas
Jare ngunu kuwi budaya wus lawas
Budaya ora duwe kelas.
Jarene sing duwe kelas budaya manca
Apa-apa kudhu teka budaya manca
Jogete joget manca
Busanane busana cara manca
Srawungge srawung cara manca
Yen teka manca dipuja-puja
Sanajan kurang prayoga
Budaya manca sumebar ing bumi nuswantara
Kabeh pada lena, ora krasa, ora rumangsa yen budaya nusantara katindes budaya manca
Mumpung esih ana mangsa
Ayo pada rekadaya tresna marang budaya bangsa
Nguri nguri lestari budaya negeri
Seni budaya jatidiri Ibu Pertiwi
Lumajang, 5 Agustus 2017
Sarwo Darmono, penyair dan juga penyiar radio tinggal di Lumajang

(rg bagus warsono, kurator di HMGM)

Sekarang Bumerang oleh Chalvin Papilaya

Adalah Chalvin Papilaya, seorang penyair asal Poka Maluku yang berani mengungkap kata akan potret Indonesia saat ini dalam bahasa Sekarang Bumerang puisinya yang bagus dalam Kita Dijajah Lagi antologi yang menggores Indonesia sampai kapan pun. Puisinya mengembang apresiasi, tetapi judulnya cukup memberi maksud sedang bait ketiga Chalvin Papilaya sedikit menghibur diri dalam kesinisannya , ..//merayakan perkabungan//......sisa-sisa siksa ......// (rg bagus warsono)



Chalvin Papilaya

Sekarang Bumerang

Sekarang, bergelegar para kesatria
Lebih sukar telah berlumur darah
Menanti-nanti takdir bercengkrama
Malam membuat tawanan pengembara
Mulut sesumpal raksasa tak bisa lagi dicabut

Sekarang, bergaya laskar di beranda muka
Panji berdendang, kutahu murka orang asing
Menggemakan mitos purba kaum putih
Dan notulensi di kanan meja memuja-muja ketakutan
Pelayar kapal yang mengenal tuhan, menutup roh-roh

Sekarang, luluh-lantak guru-gurulah jadi pelipur
Mengaku sang ahli nujum, penemu bintang-bintang
Walau metamorfosis di angkasa terbentang ganjil
Dalam sabda gaib, kita merayakan perkabungan
Berlebur urapan duka yang meletupkan sisa-sisa siksa
Ambon, Agustus 2017




Chalvin Papilaya alias ‘sebasta’. Lahir di Poka pada 23 Januari 1992. Sekarang sebagai mahasiswa akhir di Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku. Terkadang bermain teater di Bengkel Sastra Batu Karang dan mendedikasikan puisi bagi kampung.



Hujan Menyapa oleh Dhea Lingkar

Dhea Lingkar perempuan penyair asal Madiun menyapa pembaca di seluruh Tanah Air dengan perantara puisi Hujan Menyapa. Hujan seakan mengingatkan masa yang silih berganti. Panas setahun kalah dengan hujan sehari. Seakan begitu saja terus menerus. Dhea pun maklum akan orang Indonesia yang banyak 'memaklumi bahkan akan peristiwa yg terjadi. Yang sudah-sudah mudah-mudahan yang berjalan tidak demikian atau terus berharap suatu saat nanti akan lebih baik. Apalagi bagi kita rakyat kecil yang terombang ambing terus menerus. Jika tibul harap, hanyalah sesaat harapan pagi yang sinarnya tertutup hujan. Mari kita simak puisinya :

Dhea Lingkar

                                                                         Hujan menyapa

Pagi bukan seperti pagi
Menangis di bawah deras rintik air hujan
Gemetar hati untuk berkata
Menahan dingin tetesan
Membasahi tubuh
Masa-masa di mana
Semua orang tak bisa berbicara
Tentang kemerdekaan
Hanyalah angan
Keadilan hanya imajinasi
Hatiku berontak terkekang oleh peraturan
Orde baru
Apalah daya rakyat kecil
Terombang-ambing atas kesabaran
Aku selau ingin berdiri
Dengan mata tajam
Penuh makna
Lelah menjalani kehidupan
Namun waktu belum menjawab
Tetsan tumpah darah untuk negeriku
Aku berteriak dalam hening
Apakah sinar cahaya
untuk menghirup udara angin utara
Segera keluar dari api neraka
Namun cahaya pagi itu
Kembali memudar
Selama-lamanya
Madiun

Diulas oleh : Rg Bagus Warsono

Sabtu, 30 September 2017

Arya setra


58.
Arya Setra

Benahkah Kita Sudah Merdeka?

72 tahun yang lalu proklamasi
Di kumandangkan
72 tahun yang lalu negara kita
Di merdekakan
Merdeka ,,,, merdeka,,,, merdeka,,
Merdeka ini untuk siapa ??
Untuk rakyat Indonesia kah ??
Untuk penduduk pulau atau provinsi tertentu kah ??
Atau hanya untuk orang - orang tertentu kah ??
Negara kita negara agraris tapi hasil pertanian masih banyak di impor
Negara kita punya lautan yang begitu luas,, terapi kita masih kekurangan garam
Negara kita negara yang kaya sumberdaya alam nya, tapi rakrat nya masih banyak yang kekurangan
Apa itu arti merdeka yang selama ini kita teriakan ???
Benarkah kita ini sudah merdeka ??
Atau hanya bayang bayang saja yang sebernarnya rakyat nya belum merdeka,,,
Masih di jajah oleh kaum nya sendiri,,,,

Jakarta , 31 agustus 2017
Arya Setra, Penyair juga seorang seniman , beraktifitas di Pasar Seni Jakarta, menulis puisi di berbagai antologi bersama nasional tinggal di Jakarta.













Daftar Penyair Kita Dijajah Lagi

1.Sarwo Darmono (Lumajang)
2.Eri Syofratmin (Muara Bungo)
3.FE Sutan Kayo (Muara Bungo)
4.Syahriannur Khaidir(Sampang)
5. Ahmad Irfan Fauzan (Brebes)
6.Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)
7.Gilang Teguh Pambudi (Kendal)
8.Nur Komar (Jepara)
9.Tiya Laraswati (Jepara)
10.Zaeni Boli (Flores)
11.Muhammad Ishomyl Fathir Ashoh
12.Iwan Dartha (Jakarta)
13.Djemi Tomuka (Manado)
14.Dhea Lingkar (Madiun)
15.Marlin Dinamikanto (Jakarta)
16.Iwan Bonick (Bekasi)
17.Rg Bagus Warsono (Indramayu)
18.Mohamad Iskandar (Demak)
19.Chalvin Papilaya (Ambon)
20.Suhendi (Bekasi)
21.Eddy Pramduane (Jakarta)
22. Wadie Maharief (Jogyakarta)
23.Sami’an Adib (Jember)
24.Wardjito Soeharso (Semarang)
25.Anung Ageng Prihantoko (Cilacap)
26.Remon Sulaiman, (Muara Bungo)
27.Baba Syem (Muara Bungo)
28. Asro Al Murthawy (Bangko)
29. Sari Gunawan,(Bengkulu)
30.Sri Sunarti (Indramayu)
31.Amrin Moha (Cirebon)
32.Aldy Istanzia Wiguna (Bandung)
33. Anggoro Soeprapto (Semarang)
34. Bhara Martilla Rully Ardian (Ambon)
35.Mast Oim/Miftahur Rohim (Pati)
36.Sri Budi yanti (Demak)
37.M.Sapto Yuwono (Muara Bungo)
38.Joe Annas Hasan (Ambon)
39.Najibul Mahbub (Pekalongan)
40.Riswo Mulyadi (Cilacap)
41.Marthen Luther Reasoa (Ambon)
42.Gampang Prawoto (Bojonegoro)
43.Didiek WS (Jogyakarta)
44.Edi Pramono (Jogyakarta)
45. Akbar Yayuk Amirotin (Blitar)
46.Osratus (Sorong)
47.Alfianus Nggoam (Flores)
48.Sapin Ahmad (majalengka)
49.Roymon Lemosol (Ambon)
50.Aloet pati, (Pati)
51.Eko Saputra Poceratu (Ambon)
52.Marsetio Hariadi (Surabaya)
53.Wanto Tirta (Jakarta)
54.Muhammad Lefand (Jember)
55.Sokanindya Pratiwi Wening (Aceh)
56.Wirol O. Haurissa (Surabaya)
57.Salimi Ahmad (Jakarta)
58. Arya Setra (Jakarta)